Mengenal Microfinance, Manfaat dan Jenis – Jenisnya

Di tengah-tengah kebutuhan ekonomi yang semakin meningkat setiap tahunnya, masyarakat memerlukan biaya lebih untuk memenuhi kebutuhan mereka. Masyarakat menggunakan biaya ini tidak hanya untuk kebutuhan sehari-hari, tetapi juga untuk para pelaku usaha yang memerlukan modal dalam proses pengembangan bisnis mereka. Kehadiran microfinance pun mempermudah pengembangan bisnis yang sedang dilakukan.

Proses pengembangan bisnis tersebut sangat berpengaruh terhadap arus keuangan yang perusahaan kelola. Perusahaan seringkali mengalami kesulitan dalam pengelolaan arus keuangan, oleh sebab itu kini sudah saatnya Anda menggunakan sistem akuntansi keuangan yang memudahkan dalam pengelolaan keuangan.

Perusahaan yang masih terbilang muda bisa jadi belum memiliki banyak dukungan dalam urusan keuangan. Maka, mereka memerlukan bantuan yang mudah untuk dilakukan tetapi juga tidak mengeluarkan biaya yang terlalu mahal.

Pada artikel kali ini, kami akan membahas mengenai microfinance yang berguna untuk membantu bisnis Anda.

Pengertian Microfinance

Berdasarkan asal-usul kata, microfinance berasal dari dua kata yang berbeda yaitu “micro” atau “mikro” yang memiliki arti skala kecil, sedangkan “financing” yang memiliki arti keuangan. Berdasarkan haltersebut, microfinance adalah sistem pembiayaan yang membantu usaha yang berskala kecil.

Bank Indonesia (BI) mendefinisikan microfinance sebagai sistem pembiayaan yang diberikan kepada para pelaku usaha skala kecil yang memiliki penghasilan paling banyak Rp 100 juta per tahun. Asian Development Bank (ADB) juga memiliki definisi microfinance yaitu lembaga keuangan yang ditujukan bagi para pengusaha kecil dalam aktivitas deposit, kredit, pembayaran transaksi jasa, serta kegiatan transfer uang.

Manfaat Microfinance

Meskipun terlihat sepele, tetapi dengan adanya microfinance dapat membantu pemulihan ekonomi yang ada di sebuah negara. Tidak hanya itu, berikut manfaat lain dari microfinance.

  1. Meningkatkan pemerataan ekonomi

Keberadaan microfinance sebagai sebagai modal bagi pengusaha kecil membantu masyarakat dalam mengembangkan usaha mereka. Hal ini khususnya dalam meningkatkan pemerataan ekonomi untuk masyarakat yang hidup di desa, khususnya ekonomi masyarakat desa yang ada di luar pulau Jawa.

  1. Meningkatkan taraf hidup masyarakat

Setelah tingkat ekonomi masyarakat merata, maka taraf hidup masyarakat pun meningkat. Bantuan modal yang didapatkan dari microfinance untuk mengembangkan bisnis pengusaha kecil mendorong peningkatan laba, sehingga menghasilkan keuntungan yang tidak hanya untuk mengembangkan bisnis saja, tetapi juga untuk kebutuhan sehari-hari.

  1. Meningkatkan jumlah lapangan pekerjaan

Usaha kecil yang mendapatkan modal dari microfinance mendapatkan kesempatan untuk berkembang secara lebih lanjut. Usaha kecil yang kemudian berkembang ini pasti akan membutuhkan sumber daya manusia dalam melakukan pengelolaan bisnis. Sehingga, penyerapan tenaga kerja pun dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat.

  1. Mengurangi tingkat kemiskinan

Pemberian modal terhadap usaha kecil yang ingin berkembang, memberikan kesempatan bagi masyarakat atau kelompok untuk mendapatkan penghasilan dan profit dalam pengembangan bisnis mereka. Jika masyarakat mendapatkan penghasilan dan profit tetap setiap bulan atau tahun, maka dapat mengurangi angka kemiskinan di Indonesia.

  1. Meningkatkan inklusi keuangan negara

Lembaga microfinance menargetkan masyarakat kelas menengah ke bawah atau pun usaha kecil sebagai pasar mereka. Bagi masyarakat yang belum pernah menikmati fasilitas bank konvensional, maka mereka bisa mengetahui dan mempraktikkan kegiatan keuangan seperti di bank konvensional. Oleh karena itu, microfinance dapat meningkatkan inklusi keuangan negara.

Jenis-jenis Microfinance

Setelah mengetahui manfaat dari microfinance, kini kita akan membahas jenis-jenis microfinance. Terdapat dua jenis microfinance, yaitu pinjaman konsumtif dan pinjaman produktif. Perbedaan antara pinjaman konsumtif dan pinjaman produktif terletak pada tujuan penggunaan dana. Berikut penjelasannya.

  1. Pinjaman microfinance konsumtif

Kredit microfinance konsumtif adalah pinjaman yang berguna untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pinjaman konsumtif yang sering ditemui yaitu Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan Kredit Kendaraan Bermotor (KKB).

  1. Pinjaman microfinance produktif

Pinjaman produktif biasanya untuk modal pengembangan usaha, investasi, atau pembelian aset. Kredit produktif dapat meningkatkan pemasukan serta nilai dari suatu barang atau jasa. Tidak hanya meningkatkan nilai dari barang atau jasa, pinjaman produktif juga sangat berguna untuk pengusaha kecil agar membangun kemandirian usaha.

Target pasar microfinance

Target pasar atau kelompok yang bisa mendapatkan bantuan biaya dari microfinance adalah masyarakat kelas menengah ke bawah atau pelaku usaha kecil. Berikut empat kategori target pasar microfinance.

  1. The poorest of the poor

The poorest of the poor adalah kelompok masyarakat yang termiskin di dalam kategori ini. Masyarakat dalam kelompok ini tidak memiliki penghasilan tetap maupun penghasilan utama. Biasanya terdapat beberapa faktor yang memengaruhi yaitu sakit, disabilitas atau kecacatan fisik, usia, serta faktor lainnya.

  1. Laboring poor

Buruh yang memiliki pendapatan sangat rendah dan pendapatan tidak pasti masuk ke dalam kategori Laboring poor. Selain bantuan dana dari microfinance, kelompok buruh ini juga bisa mendapatkan pelatihan seperti padat karya.

  1. Self-employed poor

Masyarakat kategori Self employed poor adalah kategori masyarakat yang memiliki pekerjaan tetapi status ekonominya adalah menengah ke bawah. Meskipun memiliki penghasilan, masyarakat kategori ‘Self employed poor’ masih belum mampu memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya.

  1. Economically active poor

Kategori ‘Economically active poor’ adalah masyarakat yang berasal dari ekonomi menengah ke bawah, sudah bekerja dan memiliki penghasilan tetap, dan bisa menabung. Pada umumnya, penggunaan modal oleh masyarakat kategori ‘Economically active poor’ berguna untuk mengembangkan usaha agar taraf hidupnya meningkat.

Kesimpulan

Microfinance adalah sistem kredit yang berguna bagi masyarakat atau kelompok kalangan menengah ke bawah, baik untuk pembiayaan kehidupan sehari-hari maupun kebutuhan pengembangan usaha kecil. Salah satu platform microfinance yang paling banyak digunakan di Indonesia adalah Amartha.

Amartha hadir untuk memberikan layanan pembiayaan pada kelompok marginal yang unbanked. Apa itu Amartha? Amartha merupakan platform layanan finansial peer-to-peer lending berbasis online. Meski sebagai platform online, namun Amartha juga mencakup layanan offline. Artinya, Amartha memiliki tim lapangan untuk mengkaji langsung kelayakan usaha dari calon peminjamnya.

Amartha berdiri sejak tahun 2010 yang awalnya sebagai lembaga keuangan mikro. Seiring dengan perkembangannya, kini Amartha menjadi fintech peer-to-peer lending yang menghubungkan langsung pengusaha mikro dengan pemilik modal secara online.

Syarat menjadi investor dan peminjam di Amartha

Tertarik untuk berinvestasi di Amartha? Anda harus tahu dulu syaratnya untuk menjadi investor di platform ini. Pada prinsipnya Amartha memberlakukan syarat yang begitu mudah dipenuhi untuk menjadi investor atau pemodal. Amartha membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin berinvestasi baik perorangan maupun institusional, asal memiliki rekening di bank.

Untuk menjadi investor baik perorangan maupun atas nama badan hukum berbentuk PT atau CV, diwajibkan untuk memiliki akun Amartha. Artinya, Anda harus melakukan pendaftaran terlebih dahulu. Pendaftaran dilakukan secara online dengan mengakses website platform Amartha yang beralamat di www.amartha.com. Klik menu Daftar dan isilah formulir yang tersedia sesuai dengan data diri Anda. Jika Anda telah berhasil mendaftar sebagai investor di Amartha, Anda bisa mulai melakukan pendanaan dengan nilai minimum Rp 3 juta untuk investor perorangan.

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *